IDEOLOGI PANCASILA

  1. Pengertian Ideologi terbuka
  • Tahukah Anda mengapa ideologi menjadi hal yang penting suatu bangsa dan negara? Pada dasarnya manusia (warga negara) senang hidup berkelompok (zoon politicon). Beberapa di antaranya tentu memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda. Oleh karenanya diperlukan penyesuaian pandangan hidup, sehingga terbentuk pandangan hidup kelompok yang dapat mengakomodasi berbagai kepentingan. Terutama kepentingan yang bertujuan mencapai kesejahteraan bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  • Di dalam kehidupan berkelompok, pandangan hidup tersebut kemudian meningkat menjadi falsafah negara, atau biasa disebut dengan filosofische groundslag. Filosofische groundslag adalah suatu paham yang sesuai dan disetujui bersama. Di dalamnya terdapat tata nilai yang dicita-citakan bersama, yang akan membentuk ide-ide dasar dari segala aspek kehidupan manusia. Ide-ide dasar tersebut kemudian disebut juga dengan istilah ideologi.
  • Istilah ideologi merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “idea” dan “logos” yang berasal dari bahasa Yunani. Idea berarti ide atau gagasan, sedangkan logos berarti ilmu. Secara sederhana, ideologi dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang ide-ide, keyakinan, atau gagasan. Sementara arti ideologi secara lebih luas yaitu seperangkat prinsip-prinsip yang dijadikan dasar untuk memberikan arah dan tujuan yang ingin dicapai dalam melangsungkan dan mengembangkan kehidupan nasional suatu bangsa dan negara.
  • Moerdiono (1988) meninjau ideologi secara harfiah sebagai “a system of ideas”, artinya suatu rangkaian ide yang terpadu menjadi satu. Dalam bidang politik, ideologi diartikan secara khas, yakni seperangkat nilai yang terpadu, berkenaan dengan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam artian ini, maka gagasan-gagasan politik yang timbul dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ditata secara sistematis menjadi satu kesatuan yang utuh.
  • Sementara itu, Soerjanto Poespowardojo (1996) mengartikan ideologi sebagai kompleks pengetahuan dan nilai yang secara keseluruhan menjadi landasan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami jagad raya, bumi dan seisinya, serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya.
  • Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam konsep ideologi terkandung hal-hal sebagai berikut.
    • Ideologi mengandung gagasan, keyakinan, atau nilai-nilai mendasar dan mendalam.
    • Gagasan, keyakinan, dan nilai-nilai tersebut tersusun secara sistematis sehingga membentuk suatu kebulatan secara menyeluruh.
    • Ideologi ini akan mendasari kehidupan bersama bagi suatu kelompok, golongan masyarakat, atau bangsa.
    • Nilai, gagasan, sikap dalam ideologi itu bersifat khas.
    • Di beberapa negara, ideologi menjadi landasan bagi terbentuknya negara yang kokoh, yang mengetahui dengan jelas tentang tujuan yang ingin dicapai serta ke arah mana bangsa dan negara akan dibawa. Melalui ideologi, suatu bangsa akan memandang segala macam persoalan yang dihadapinya dan sekaligus memecahkannya secara tepat. Sebaliknya tanpa ideologi, suatu bangsa akan sulit menentukan kebijakan dalam menghadapi bermacam persoalan. Terutama persoalan yang berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan, maupun persoalan yang berkaitan dengan pergaulan internasional.
    • Berdasarkan pengalaman, negara yang tidak memiliki ideologi, umumnya sangat sulit untuk bersatu padu secara kokoh. Selain itu, ideologi yang tidak mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat, juga sangat rentan terhadap timbulnya perpecahan dalam suatu negara. Misalnya negara Uni Soviet yang terpecah belah menjadi beberapa negara-negara kecil, termasuk Rusia.
    • Negara ini pada awalnya merupakan salah satu negara super power. Namun karena ideologinya dianggap tidak mampu menyejahterakan rakyat secara optimal, akhirnya ideologi itu pun secara perlahan mulai ditinggalkan. Satu persatu negara bagian mulai memisahkan diri, sehingga menyeret negara ini pada perpecahan. Akibat dari perpecahan tersebut, Uni Soviet akhirnya bubar, dan status sebagai negara super power pun mulai hilang.
    • Kejadian seperti itu sebenarnya dapat menimpa setiap negara, termasuk Indonesia. Seperti telah Anda ketahui, bahwa masyarakat Indonesia terdiri atas suku bangsa yang beragam. Untuk itu diperlukan sebuah pedoman atau landasan negara yang disetujui bersama, sehingga negara ini dapat berdiri kokoh dan lestari. Karena tanpa adanya ideologi, bukan mustahil nasib Indonesia akan sama seperti Uni Soviet.
    • Jadi pada intinya, ideologi merupakan pedoman bagi kehidupan suatu kelompok masyarakat, sekaligus sebagai sebuah pondasi bagi terciptanya suatu negara. Dengan adanya ideologi, tata kehidupan suatu kelompok masyarakat, bangsa, dan negara akan lebih terarah dan terkendali.
  • Setiap ideologi terdiri atas beberapa unsur. Secara umum, unsur-unsur yang terkandung dalam ideologi, dapat diidentifikasi sebagai berikut.
    • Adanya suatu penafsiran atau pemahaman terhadap kenyataan (reality). Unsur inilah yang disebut unsur interpretasi.
    • Memuat seperangkat nilai-nilai (contruct of values) atau petunjuk untuk penuntun moral (moral prescription). Unsur ini disebut juga unsur etika.
    • Memuat suatu orientasi pada tindakan (action oriented) atau suatu pedoman kegiatan untuk mewujudkan nilai-nilai yang termuat di dalamnya. Unsur ini disebut unsur retorika.
    • Setelah mengetahui pengertian dan unsur ideologi, bahasan selanjutnya adalah apa saja fungsi pokok ideologi tersebut bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Ideologi suatu negara memiliki beberapa fungsi dalam penerapannya. Soerjanto Poespowardojo (1996) mengemukakan fungsi-fungsi ideologi di antaranya sebagai berikut.
      • Struktur koginitif, yakni keseluruhan pengetahuan yang dapat merupakan landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian-kejadian dalam alam sekitarnya.
      • Orientasi dasar, dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta menunjukkan tujuan dalam kehidupan manusia.
      • Norma-norma, yang menjadi pedoman dan pegangan begi seseorang untuk melangkah dan bertindak.
      • Bekal dan jalan bagi seseorang untuk menentukan identitasnya.
      • Kekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang untuk menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan.
      • Pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati, serta mempolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung di dalamnya.
      • Di samping itu, ideologi juga berfungsi sebagai “solidarity making” dengan mengangkat berbagai perbedaan dalam tata nilai yang lebih tinggi. Artinya ideologi disusun untuk mengakomodir berbagai perbedaan, dan membuat perbedaan tersebut tidak sebagai penghalang melainkan sebagai pemersatu suatu bangsa. Kesimpulan dari pendapat di atas yaitu bahwa ideologi berfungi (1) membentuk identitas kelompok, (2) mempersatukan, (3) mengatasi konflik, dan (4) sebagai solidarity making.
        • Ideology dapat dirumuskan sebagai suatu sistem berpikir yang digunakan oleh suatu masyrakat untuk menginterpretasikan (menafsirkan) hidup dan kehidupannya. Dapat juga dikmatakan sebagai identitas suatu masyarakat atau bangsa (identity) yang sering disebut dengan istilah “kepribadian bangsa”. Mengingat ideology merupakan suatu sistem berpikir dalam semua aspek kehidupan, maka ideology dapat diterapkan ke dalam sistem politik, ekonomi, dan sosial budaya. Mula-mula digali dari kenyataan-kenyataan yang ada (induktif), kemudian dirumuskan dalam suatu sistem, setelah itu diterapkan kembali dalam segala aspek kehidupan (deduktif).Untuk lebih memperjelas pemahaman perhatikan bagan dibawah ini

Ide atau Gagasan-gagasan

Hidup dan kehidupan

(induktif)

Hidup dan kehidupan

(induktif)

Hidup dan kehidupan

(induktif)

Sistem Politik

Sistem Sosbud

Sistem ekonomi

  • Sebagai suatu sistem, ideology tentu saja bersifat sistematis, artinya runtut, tidak melompat-lompat dan masuk akal. Secara garis besar, cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama juga dirumuskan dalam ideology. Dengan demikian gagasan dasar ideology merupakan gagasan yang cukup lengkap untuk dijadikan sebagai pedoman hidup.
  • Pancasila sebagai Ideologi Nasional
    • Kedudukan Pancasila sebagai ideology bangsa tercantum dalam Ketetapan MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang pencabutan TAP MPR RI No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Dalam pasal 1 ketetapan tersebut dinyatakan bahwa Pancasila sebagaimana yang dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945 adalah dasar Negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.
    • Dengan mendasarkan pada Ketetapan MPR tersebut, secara jelas dinyatakan bahwa kedudukan Pancasila dalam kehidupan bernegara Indonesia adalah:
    • Sebagai dasar Negara dari NKRI
    • Sebagai ideology nasional dari NKRI
      • Pancasila sebagai suatu ideology tidak bersifat kaku dan tertutup, namun bersifat reformatif, dinamis dan terbuka. Sumber semangat yang menjadikan Pancasila sebagai ideology terbuka, terdapat dalam penjelasan umum UUD 1945, dalam penjelasan tersebut diakatakan, “Terutama bagi Negara baru dan Negara muda, lebih baik hukum dasar yang tertulis itu hanya memuat aturan-aturan pokok saja, sedang aturan-atuaran yang menyelenggarakan aturan pokok diserahkan kepada undang-undang yang lebih mudah caranya membuat, merubah dan mencabut”.
      • Beberapa faktor yang mendorong pemikiran mengenai keterbukaan ideology Pancasila adalah
      • Kenyataan dalam proses pembangunan nasional bersencana dan dinamika masyrakat berkembang dengan cepat
      • Kenyataan menunjukkan, bahwa bangkrutnya ideology yang tertutup dan beku cenderung meredupkan perkembangan dirinya.
      • Tekad memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dinamis dalam rangka mencapai tujuan nasional
      • Pengalaman sejarah kita di masa lampau
        • Menurut Alfian suatu ideology diatakan sebagai terbuka dan dinamis, apabila memiliki 3 dimensi yaitu:
        • Dimensi Realitas
        • Bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung dalam ideology itu secara riil berakar dan hidup dalam masyrakat atau bangsanya, terutama karena niali-nilai dasar tersebut bersumber dari budaya dan pengalaman sejarahnya. Dilihat dari segi ini Pancasila mnegandung dimensi realita. Menurut Alfian, kelima dasar Pancasila ditemukan dalam suasana atau pengalaman kehidupan masyarakat desa kita yang bersifat kekeluargaan, kegotongroyongan atau kebersamaan.
        • Dimensi Idealisme
        • Maknanya bahwa nilai-nilai dasar ideology Pancasila mengandung idealisme, bukan lambungan angan-angan (utopia), yang memberi harapan tentang masa depan yang lebih baik melalui perwujudan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Sastrapetadja, ideology selain memberi penafsiran atau pemahaman atas kenyataan, juga mempunyai sifat futuristic yaitu memberi gambaran akan masa depan. Nilai-nilai yang terkandung dalam ideology Pancasila merupakan nilai-nilai yang diciptakan dan ingin diwujudkan.
        • Dimensi Fleksibilitas
        • Dimensi fleksibilitas suatu ideology hanya mungkin dimiliki oleh ideology yang terbuka atau ideology yang demokratis. Karena, ideology yang terbuka atau demokratis justru mempertaruhkan relevansi kekuatan pada keberhasilannya merangsang masyrakat untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran baru tersebut, suatu ideology dapat memperbaharui dan mempersegar makna, memelihara, serta memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu tanpa khawatir atau menaruh curiga akan kehilangan nilai-nilai dasarnya.
        • Fleksibilitas ideology Pancasila mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
        • Nilai dasar
        • Merupakan nilai-nilai dasar yang relative tetap (tidak berubah) yang terdapat di dalam Pembukaan UUD 1945 dan mengandung cita-cita, tujuan, serta nilai-nilai yang baik dan benar. Oleh karena itu, pembukaan memuat nilai-nilai dasar ideology Pancasila maka pembukaan UUD 1945 merupakan norma dasar yang menjadi tertib hukum tertinggi, sebagai sumber hukum positif dan memiliki kedudukan sebagai “Staatsfundamentalnorm” tau pokok kaidah Negara yang fundamental.
        • Nilai instrumental
        • Merupakan nilai-nilai lebih lanjut dari nilai-nilai dasar yang dijabarkan secara lebih kreatif dan dinamis dalam bentuk UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan.
        • Nilai Praxis
        • Merupakan nilai-nilai yang sesungguhnya dilaksanakan dalam kehidupan nyata sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara.
          • Jadi hakikat ideology Pancasila bersifat terbuka adalah nilai-nilai dasar yang bersifat universal dan tetap. Adapun, penjabaran dan realisasinya diekplisitkan secara dinamis reformatif, di mana mampu melakukan perubahan sesuai dengan dinamika aspirasi masyarakat.
          • Pancasila sebagai sumber nilai
          • Ada dua pandangan tentang cara beradanya nilai, yaitu:
          • Nilai sebagai sesuatu yang ada pada objek itu sendiri (objektif)
          • Nilai sebagai sesuatu yang bergantung kepada penagkapan dan perasaan orang (subjektif)
          • Menurut C. Kluckhon nilai bukanlah keinginan, tetapi apa yang diinginkan. Artinya, nilai itu bukan hanya diharapkan tetapi diusahakan seabgai suatu yang pantas dan benar bagi diri sendiri dan orang lain. Ukuran-ukuran yang dipakai untuk menagatasi keamuan pada saat dan situasi tertentu itulah yang dimaksud dengan nilai. Pada dasarnya nilai dapat dibedakan berdasarkan cirinya yakni
          • Nilai-nilai yang mendarah daging
          • Nilai dominant
          • Menurut Prof Dr. notonegoro nilai dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
          • Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia
          • Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.
          • Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian dapat dibedakan atas empat macam, antara lain:
          • Nilai kebenaran/kenyataan, yang bersumber dari unsur akal manusia (ratio, budi dan cipta)
          • Nilai keindahan, yang bersumber dari unsur manusia (perasaan dan estetis)
          • Nilai moral, yang bersumber dari unsur kehendak/kemauan (karsa dan etika)

Nilai religius, merupakan nilai ketuhanan, kerohanian, yang tinggi dan mutlak yang bersumber dari keyakinan/kepercayaan manusia.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s